CBP

Corp brigade pembangunan

Ketika akan diadakan Kongres ke V di Purwokerto, diadakan konferensi besar di Pekalongan pada tanggal 28 OktobDoer 1964, lahirlah rumusan sikap yang disebut dengan ‘Doktrin Pekalongan’, yang isinya sebuah ekspresi kesadaran IPNU untuk terus berusaha melakukan langkah langkah kongkrit aktualisasi perjuangan menuju cita cita Nahdlatul Ulama. Doktrin Pekalongan juga menegaskan pemihakan IPNU kepada Pancasila, mengalahkan manifesto Komunis maupun Declaration of Independence. Dari Doktrin pekalongan inilah yang kemudian mendorong berdirinya Corp Brigade Pembangunan (CBP) pada tahun 1965. Mengingat pada saat itu eskalasi politik sedang meningkat. Operasional CBP ada pada wilayah membantu usaha pembangunan masyarakat desa dan sebagai organ keamanan bagi IPNU. Kongres V di Purwokerto menghasilkan ketua terpilih Asnawi Latif. Dan yang terpenting adalah Ikrar Bersama peserta Kongres V yang berbunyi “Nama Organisasi ‘Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama’ tidak akan di ubah untuk selama lamanya.”

Namun pada tahun 1988 saat kongres ke-10 di Jombang, dikarenakan UU Nomor 8 tahun 1985 tentang aturan keormasan di Indonesia. Azas dan nama berubah, karena tuntutan UU itu, seperti juga pada NU. Tetapi hakekat dari tujuan, sasaran kelompok dll, tetap sama. Akronim IPNU dari Ikatan pelajar NU menjadi Ikatan Putra NU. Bahkan ketika itu, sebenarnya tidak saja kependekan “P” termasuk dua huruf dibelakangnya (NU) yang harus dihapuskan, karena hal itu dianggap sebagai bawahan partai tertentu. Pada kongres akhirnya tetap menjadi IPNU, hanya “P”-nya saja yang berubah,dari pelajar menjadi putra. Hal serupa juga terjadi pada organisasi pelajar manapun. Perubahan nama tersebut menjadikan IPNU terpaksa merubah focus sasaran bidang garap dari pelajar dan santri, menjadi lebih difokuskan pada kepemudaan. Karna peraturan itu juga CBP menjadi non aktif .

Kemudian Lembaga CBP di aktifkan kembali setelah  adanya Deklarasi Makasar pada tahun 2000. Kinerja CBP berorientasi pada Kedisiplinan, Kemanusiaan, Pengapdian kepada Alam dan Lingkungan. CBP merupakan ujung tombak IPNU dalam pengapdiaanya kepada masyarakat.Oleh karna itu CBP harus mempunyai langkah – langkah yang strategis untuk mencapai tujuannya. Dalam melakukan kegiatan CBP harus berlandaskan dan mengandung unsur – unsur Keilmuan / mendidik, Ketakwaan. perjuangan, dan Pengabdian untuk kepentiangan Anggota, Organisai dan yang terpenting adalah masyarakat luas.

DASAR HUKUM

Lembaga CBP diaktifkan dan dideklarasikan di seluruh INDONESIA berdasarkan
  1. Kongres IPNU XII di Garut jawa barat, 10 – 14 Juli 1996
  2. Rakernas IPNU di jakarta, 01 – 05 November 1997
  3. Konbes IPNU di jakarta, 19 – 21 Sebtember 1998
  4. Kongres IPNU XIII di maros, Makasar, Sulawesi selatan, 21 – 24 Maret 200

MARS CBP

PERJUANGAN

Tingalkan ayah tinggalkan ibu  ( ayah,Ibu )
Izinkan kami pergi berjuang ( berjang )
Di bawah kibaran merah putih ( maerah putih )
Majulah ayo maju serbu

Tidak kembali pulang ( pasti pulang )
Sebelum kita yang menang ( pasti menang )
Walau mayat terkapar di medan juang
Demi bangsa kurela berjuang ( berjuang )

Maju ayo maju ayo terus maju
Singkirkan dia, dia, dia
Kikis habislah merekah
Demi negara indonesia

Wahai kawanku  Pasukan CBP
Dimana engkao berada ( di sini )
Teruskan perjuangan para pahlawan
Demi bangsa kurela berjuang ( berjuang )

Maju ayo maju ayo terus maju
Singkirkan dia, dia, dia
kikis habilah mereka
Demi negarah indonesia

TOKOH PENGGAGAS ADANYA CBP

Asnawi Latief  TOKOH PENGGAGAS ADANYA CBP

Asnawi Latief merupakan sosok Ketua IPNU yang mampu menganalisa zaman dengan cepat dan kemudian menungganginya. Pada masa kepemimpinan Asnawi Latief, kondisi perpolitikan Indonesia sedang berada pada posisi kritis, gerakan anti PKI yang meledak pasca Gestapu menjadi santapan media sehari-hari dan mengguncang dunia perpolitikan Indonesia. Hal inilah yang kemudian oleh Asnawi Latief dijadikan sebagai peluang untuk bisa semakin membesarkan dan mengeksiskan IPNU di kancah nasional.

Keterlibatan IPNU dalam organisasi KAPPI (Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia) yang turut menentang keberadaan PKI, menunjukkan bahwa Asnawi mampu menampilkan IPNU sebagai organisasi pelajar tingkat nasional yang selalu gandrung terhadap perubahan dan pembangunan. Di samping itu, pada masa Asnawi, IPNU untuk pertamakalinya membentuk CBP (Corp Brigade Pembangunan) sebagai antisipasi dari gerakan-gerakan politik PKI dan tentara, CBP kemudian menjadi trade mark bagi kepanduan IPNU.

Selain itu Asnawi bersama dengan rekan-rekan pengurus lainnya, berupaya untuk melahirkan suatu konsep baku tentang pengkaderan dalam tubuh IPNU. Hal tersebut kemudian melahirkan suatu buku panduan pengkaderan untuk pertamakalinya bagi IPNU dalam skala nasional.

Hilmy Muhammadiyah “Sang Pengayom”

Sosok Hilmy Muhammadiyah mungkin bisa disebut sebagai sosok pemimpin yang mampu mengakomodir semua aspirasi dan merawat jaringan. Melalui tangan dinginnya Hilmy mampu membawa IPNU melalui berbagai tahap perubahan secara sistematis. Dari mulai membangun sebuah tradisi baru dalam kepengurusannya, hingga melakukan perluasan jaringan di tingkatan eksternal IPNU. Dengan menggunakan metode pengayoman dan perawatan kader Hilmy mampu membentuk sebuah kepengurusan yang solid. Dari sini kemudian Hilmy mampu memulai melakukan perubahan dalam tubuh IPNU secara sistematis. Salah satu hal terpenting dalam masa kepengurusan Hilmy
adalah dengan adanya perombakan system dalam tubuh CBP. Sebelum masa
kepengurusan Hilmy CBP telah lama mengalami kevacuuman dan disorientasi. Pada masa Hilmy inilah dilakukan upaya perombakan CBP dari mulai system pengkaderan hingga orientasi dari CBP itu sendiri.

Asrorun Niam Sholeh “Sang Pustaka IPNU”

Asrorun Niam Sholeh merupakan salah satu sosok yang sangat peduli dalam dunia pendokumentasian arsip IPNU. Melalui tangannya banyak sekali arsip-arsip lama IPNU yang berhasil diselamatkan. Pemberian kepercayaan pada masa kepengurusan Hilmy Muhammadiyah kepadanya, agar menangani berbagai program terutama yang berkaitan dengan dunia dokumentasi dan tulis menulis, membuat Niam semakin bersemangat untuk terus mengekspresikan potensinya dalam dunia tersebut.

Salah satu tinggalan Niam yang hingga sekarang masih tetap eksis adalah Majalah Lensa Remaja yang diterbitkan oleh PP IPNU. Selain itu banyak sekali karya-karya Niam tentang IPNU yang diterbitkan, salah satunya adalah buku sejarah IPNU yang berjudul Kaum Muda NU dalam Lintas Sejarah, yang ditulis bareng dengan Sulthan Fatoni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: